Langsung ke konten utama
Pakaian Sakral dan Jubah Bait Suci
Agama-Agama Dunia

Pakaian Sakral dan Jubah Bait Suci

Temukan sejarah dan simbolisme di balik pakaian sakral—dari tallit Yahudi dan kasaya Buddhis hingga pakaian dalam bait suci Orang Suci Zaman Akhir.

Temples.org Editorial May 13, 2026 7 mnt membaca

Membuat Janji Batin Terlihat

Pakaian sakral berfungsi sebagai ekspresi iman yang nyata di banyak agama di dunia. Pakaian ini berfungsi sebagai pengingat fisik tentang perjanjian yang dibuat, simbol pengabdian, dan tindakan persiapan rohani.

Walaupun pakaian tertentu sangat beragam—dari selendang doa sederhana hingga jubah monastik yang rumit—secara umum pakaian tersebut memiliki tujuan inti yang sama: membantu pemakainya beralih dari yang biasa menjadi yang sakral, mempertahankan hubungan yang konstan dengan yang ilahi.

Pakaian Dalam Bait Suci dan Jubah Orang Suci Zaman Akhir

Di Gereja Yesus Kristus dari Orang-Orang Suci Zaman Akhir, pakaian sakral terdiri dari dua jenis utama: pakaian dalam bait suci dan jubah bait suci. Anggota dewasa yang telah menerima pemberkahan mengenakan pakaian dalam bait suci di bawah pakaian sehari-hari mereka. Pakaian ini tidak dianggap "ajaib," melainkan berfungsi sebagai pengingat pribadi dan sakral tentang perjanjian (janji) yang dibuat dengan Allah di bait suci, menawarkan simbol perlindungan rohani dan komitmen kepada Yesus Kristus.

Jubah bait suci, di sisi lain, dikenakan secara eksklusif di dalam bait suci selama tata cara sakral. Jubah ini berwarna putih, melambangkan kemurnian dan kesetaraan semua orang di hadapan Allah, dan membangkitkan tradisi imamat alkitabiah kuno.

Tallit Yahudi

Tallit, atau selendang doa, adalah bagian penting dari pakaian keagamaan Yahudi. Fitur yang paling signifikan adalah tzitzit (rumbai) yang diikat ke empat sudutnya, memenuhi perintah yang ditemukan dalam Taurat (Bilangan 15:37-41).

Rumbai-rumbai ini berfungsi sebagai pengingat visual yang konstan tentang Allah dan 613 mitzvot (perintah). Mengenakan tallit adalah tindakan mengidentifikasi diri dengan komunitas Yahudi dan menerima kewajiban ilahi ini. Secara tradisional dikenakan selama doa pagi, menciptakan ruang pribadi dan sakral untuk persekutuan dengan Allah.

Kasaya Buddhis

Kasaya (juga disebut cīvara) mengacu pada jubah tradisional yang dikenakan oleh biksu dan biarawati Buddhis. Secara historis, jubah ini dibuat dari kain perca yang dibuang, melambangkan pelepasan, kesederhanaan, dan keterpisahan total dari harta benda duniawi.

Saat ini, jubah membedakan para biarawan dari umat awam. Kasaya berfungsi sebagai pengingat harian yang mendalam tentang sumpah kemiskinan dan kemurnian mereka, komitmen mereka pada jalan pencerahan, dan pengabdian mereka pada ajaran Buddha. Warna dan gaya—apakah safron, merah marun, atau hitam—bervariasi menurut wilayah dan tradisi, tetapi simbolisme dasar Sangha (komunitas monastik) tetap universal.

Sources & Research

Every fact on Temples.org is backed by verified Sources & Research. Each piece of information is rated by source tier and confidence level.

Tier A
Official Primary source from official institution
Tier B
Academic Peer-reviewed or encyclopedic source
Tier C
Secondary News articles, travel sites, or general reference
Tier D
Commercial Tour operators, booking agencies, or promotional content
View All Sources (3)
Field Source Tier Retrieved
Temple Garments and Sacred Clothing The Church of Jesus Christ of Latter-day Saints (opens in a new tab) A 2026-05-13
The Tallit and Tzitzit Reform Judaism (opens in a new tab) B 2026-05-13
The Buddhist Robe Tricycle: The Buddhist Review (opens in a new tab) B 2026-05-13
Kembali ke Pusat Pembelajaran