Langsung ke konten utama
Operating

Candi Borobudur

Candi Buddha terbesar di dunia, sebuah monumen menakjubkan untuk kepercayaan Buddha Mahayana dan kesenian Jawa.

Scroll to explore

Informasi Pengunjung

Mengunjungi Candi Borobudur

Mengunjungi Candi Borobudur adalah pengalaman yang benar-benar tak terlupakan, menawarkan sekilas tentang warisan budaya dan agama Indonesia yang kaya. Sebagai candi Buddha terbesar di dunia, Borobudur adalah pemandangan yang luar biasa untuk dilihat, dengan ukiran-ukiran rumit, stupa-stupa yang menjulang tinggi, dan pemandangan panorama lanskap sekitarnya. Apakah Anda seorang penggemar sejarah, pencari spiritual, atau hanya seorang pengagum keindahan, Borobudur pasti akan meninggalkan kesan abadi.

Sorotan

  • Saksikan matahari terbit yang menakjubkan di atas candi, memancarkan cahaya keemasan pada batu-batu kuno.
  • Jelajahi panel relief yang rumit, yang menggambarkan adegan-adegan dari kehidupan Buddha dan kehidupan sehari-hari masyarakat Jawa kuno.
  • Naik ke puncak candi dan kagumi pemandangan panorama lanskap sekitarnya.
  • Rasakan suasana spiritual dari situs suci ini, tempat ziarah dan kontemplasi selama berabad-abad.

Hal yang Perlu Diketahui

  • Waktu terbaik untuk mengunjungi Borobudur adalah selama musim kemarau (Mei hingga Oktober) untuk langit yang cerah.
  • Matahari terbit adalah waktu yang ajaib untuk dikunjungi, meskipun akses ke struktur candi terbatas.
  • Pesan tiket secara online terlebih dahulu untuk menghindari antrean panjang.
  • Kenakan sepatu yang nyaman, karena Anda akan banyak berjalan dan mendaki.
  • Bawa tabir surya, air, dan topi untuk melindungi diri dari matahari.

Lokasi

Jl. Badrawati, Kw. Candi Borobudur, Borobudur, Kec. Borobudur, Kabupaten Magelang Jawa Tengah, Indonesia

Jam Buka: Kompleks Candi Borobudur buka setiap hari mulai pukul 06:30 hingga 17:30. Struktur Candi buka dari hari Selasa hingga Minggu antara pukul 08:30 dan 15:30.

Cara Menuju: Kota besar terdekat adalah Yogyakarta, yang memiliki bandara internasional dan koneksi kereta api. Dari Yogyakarta, pengunjung dapat mencapai Borobudur dengan menyewa sepeda motor, naik bus lokal, menyewa sopir pribadi, atau bergabung dengan tur terorganisir.

Petunjuk Arah (opens in a new tab)

Tips Kunjungan

Pesan Tiket Online

Beli tiket Anda secara online terlebih dahulu untuk menghindari antrean panjang dan memastikan masuk, terutama selama musim puncak.

Berpakaian Sopan

Meskipun tidak ada aturan berpakaian resmi, disarankan untuk berpakaian sopan sebagai bentuk penghormatan terhadap kesucian situs ini.

Tetap Terhidrasi

Bawa banyak air, terutama jika Anda berkunjung selama bulan-bulan panas dan lembap.

Tentang

Borobudur, juga ditranskripsikan Barabudur, adalah candi Buddha Mahayana abad ke-9 di Kabupaten Magelang, tidak jauh dari Muntilan, di Jawa Tengah, Indonesia. Struktur monumental ini adalah candi Buddha terbesar di dunia, sebuah bukti sejarah budaya dan agama yang kaya di wilayah tersebut. Desainnya menggabungkan arsitektur Buddha Jawa dengan tradisi asli Indonesia, menciptakan situs suci yang unik dan menakjubkan.

Candi ini dibangun sekitar tahun 780-840 M selama Dinasti Syailendra, periode berkembangnya seni dan arsitektur Buddha di Jawa. Gunadharma dikreditkan sebagai arsitek di balik kreasi megah ini. Selama berabad-abad, Borobudur berfungsi sebagai situs ziarah penting, menarik umat dari seluruh wilayah. Namun, ditinggalkan pada abad ke-14-15 ketika pengaruh kerajaan Hindu dan Buddha memudar, dan Islam menyebar di Jawa.

Borobudur ditemukan kembali pada tahun 1814 oleh Sir Thomas Stamford Raffles, Gubernur Jenderal Inggris di Jawa, Borobudur mengalami upaya restorasi yang signifikan pada abad ke-20. Proyek restorasi besar, yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia dan UNESCO, berlangsung pada tahun 1970-an dan 1980-an, yang berpuncak pada penetapannya sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO pada tahun 1991. Saat ini, Borobudur berdiri sebagai simbol warisan budaya Indonesia yang kaya dan bukti kekuatan abadi seni dan filsafat Buddha.

Agama
Buddha (Mahayana)
Status
Beroperasi
Dibangun
Abad ke-8-9 M
Arsitek
Gunadharma
Situs Warisan Dunia UNESCO
Ditetapkan pada tahun 1991
0 meter kubik
Batu Andesit yang Digunakan
0
Panel Relief
0
Patung Buddha
0 kilometer
Jarak Berjalan di Sekitar Galeri

Pertanyaan Umum

Apakah Borobudur itu?

Borobudur adalah candi Buddha Mahayana abad ke-9 yang terletak di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, Indonesia. Ini adalah candi Buddha terbesar di dunia dan Situs Warisan Dunia UNESCO, yang terkenal karena arsitekturnya yang rumit, simbolisme yang kaya, dan signifikansi sejarah.

Kapan Borobudur dibangun?

Borobudur dibangun pada masa dinasti Syailendra, sekitar antara tahun 780 dan 840 M. Pembangunannya berlangsung selama beberapa dekade dan melibatkan tenaga kerja dari banyak pengrajin dan pekerja.

Apa gaya arsitektur Borobudur?

Arsitektur Borobudur adalah perpaduan unik antara desain Buddha Jawa dan tradisi asli Indonesia. Struktur candi menggabungkan elemen stupa, mandala, dan tempat suci gunung, yang mencerminkan kosmologi Buddha dan perjalanan spiritual menuju pencerahan.

Apa saja pembagian simbolis Borobudur?

Borobudur dibagi menjadi tiga zona yang mewakili kosmologi Buddha: Kamadhatu (dunia keinginan), Rupadhatu (dunia bentuk), dan Arupadhatu (dunia tanpa bentuk). Pembagian ini melambangkan perjalanan spiritual dari keinginan duniawi menuju pencerahan.

Bagaimana Borobudur ditemukan kembali?

Borobudur ditemukan kembali pada tahun 1814 oleh Sir Thomas Stamford Raffles, Gubernur-Jenderal Inggris di Jawa. Candi ini telah ditinggalkan selama berabad-abad dan sebagian besar tersembunyi di bawah lapisan abu vulkanik dan tumbuh-tumbuhan.

Garis Waktu

8th-9th Century

Pembangunan Candi Borobudur

Candi ini dibangun pada masa dinasti Syailendra, periode berkembangnya seni dan arsitektur Buddha di Jawa.

Tonggak
c. 800 AD

Perkiraan Pendirian

Candi ini didirikan oleh umat Buddha Mahayana.

Tonggak
c. 780-840 AD

Pembangunan Dinasti Sailendra

Dinasti Sailendra membangun candi ini.

Tonggak
c. 833 AD

Penyelesaian Tahap Kelima

Sanjaya menyelesaikan tahap kelima Borobudur.

Tonggak
9th-14th Century

Situs Ziarah

Borobudur berfungsi sebagai situs ziarah penting.

Peristiwa
14th-15th Century

Pengabaian

Candi ini ditinggalkan karena pengaruh kerajaan Hindu dan Buddha melemah, dan Islam menyebar di Jawa.

Peristiwa
1814

Penemuan Kembali oleh Sir Thomas Stamford Raffles

Candi ini ditemukan kembali oleh Sir Thomas Stamford Raffles, Gubernur-Jenderal Inggris di Jawa.

Tonggak
1885

Penemuan Kaki Tersembunyi

Sebuah kaki candi yang tersembunyi ditemukan.

Peristiwa
1907-1911

Restorasi Pertama

Restorasi pertama dipimpin oleh Theodoor van Erp, seorang insinyur tentara Belanda.

Renovasi
1970s-1980s

Proyek Restorasi Besar

Sebuah proyek restorasi besar dilakukan oleh pemerintah Indonesia dan UNESCO.

Renovasi
1983

Restorasi Selesai

Restorasi Borobudur selesai.

Renovasi
1991

Situs Warisan Dunia UNESCO

Borobudur ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO.

Tonggak
2014

Penutupan Sementara

Candi ini ditutup sementara karena abu vulkanik dari letusan gunung berapi Kelud.

Peristiwa
2023

Pembukaan Kembali dengan Aturan Baru

Candi ini dibuka kembali dengan aturan baru.

Peristiwa

Arsitektur dan Fasilitas

Arsitektur Buddha Jawa yang menggabungkan bentuk stupa, mandala, dan tempat suci gunung. Dibangun dari sekitar 55.000 meter kubik batu andesit abu-abu, saling terkait tanpa mortar menggunakan kenop, ekor burung, dan lekukan. Monumen ini terdiri dari sembilan platform bertumpuk — enam persegi dan tiga lingkaran — dimahkotai oleh kubah pusat, yang menjulang lebih dari 35 meter. Platform persegi menampilkan dinding yang dihiasi dengan 2.672 panel relief dan 504 patung Buddha, sedangkan tiga platform lingkaran terbuka, menopang 72 stupa berlubang berbentuk lonceng. Struktur ini dibagi menjadi tiga zona simbolik yang mencerminkan kosmologi Buddha: Kamadhatu (dasar, dunia keinginan), Rupadhatu (lima teras persegi, dunia bentuk), dan Arupadhatu (tiga platform lingkaran dan puncak, dunia tanpa bentuk). Sistem drainase canggih dengan 100 cerat gargoyle berbentuk makara mengelola air hujan. Desainnya memadukan seni Buddha India yang dipengaruhi Gupta dengan tradisi kuil leluhur Jawa asli.

Bahan Bangunan

Batu Andesit Abu-abu

Bahan bangunan utama, sekitar 55.000 meter kubik andesit vulkanik yang bersumber secara lokal. Balok-balok batu abu-abu diletakkan tanpa semen atau mortar, menggunakan sistem penguncian yang canggih berupa kenop, ekor burung, dan lekukan — teknik yang memungkinkan struktur ini bertahan selama lebih dari 1.200 tahun.

Fondasi Batu Vulkanik

Candi ini dibangun di atas bukit alami, yang dibentuk dan diratakan dengan bahan pengisi untuk menciptakan dasar piramida bertingkat. Balok-balok batu setebal 2 hingga 4 meter diletakkan di atas fondasi yang telah disiapkan ini, dengan bukit itu sendiri berfungsi sebagai inti struktural.

Panel Relief Ukiran

2.672 panel relief dan 1.460 panel naratif diukir langsung ke batu andesit, meliputi total area sekitar 1.900 meter persegi. Ini membutuhkan pekerjaan batu yang sangat presisi, karena setiap batu harus diukir sebelum dipasang ke dalam sistem penguncian.

Lonceng Stupa Berlubang

72 stupa berbentuk lonceng di tiga teras lingkaran dibangun dari balok-balok andesit yang diukir secara individual yang dirakit menjadi perforasi berbentuk berlian yang berkisi. Setiap stupa awalnya menyertakan patung Buddha yang duduk yang terlihat melalui lubang.

Fitur Interior

Kamadhatu (Kaki Tersembunyi)

Tingkat dasar asli yang menggambarkan dunia keinginan, diukir dengan 160 panel relief yang menggambarkan hukum karma. Ditemukan pada tahun 1885, tingkat ini sebagian besar disembunyikan oleh dasar selubung yang ditambahkan selama konstruksi untuk menstabilkan monumen. Sebuah sudut telah dibiarkan terbuka bagi pengunjung untuk melihat ukiran aslinya.

Galeri Rupadhatu (Tingkat 1–4)

Empat teras persegi membentuk koridor tertutup dengan dinding yang dilapisi oleh 1.300 panel relief naratif dan 1.212 panel dekoratif. Galeri-galeri ini menggambarkan kehidupan Buddha (Lalitavistara), kisah-kisah Jataka tentang kehidupan sebelumnya, dan perjalanan Sudhana dari sutra Gandavyuha. Para peziarah berjalan searah jarum jam melalui tingkat yang semakin tinggi, melambangkan kenaikan spiritual.

Platform Arupadhatu (Tingkat 5–7)

Tiga teras terbuka berbentuk lingkaran yang mewakili alam tanpa bentuk, sebuah perubahan dramatis dari galeri tertutup di bawahnya. Platform-platform ini menopang 72 stupa berlubang yang disusun dalam lingkaran konsentris (32, 24, dan 16 stupa), masing-masing berisi patung Buddha dalam posisi meditasi. Keterbukaan melambangkan pembebasan dari keterikatan duniawi.

Stupa Pusat (Puncak)

Elemen mahkota Borobudur, sebuah stupa besar berbentuk lonceng tertutup yang menjulang 35 meter di atas permukaan tanah. Tidak seperti stupa berlubang di bawahnya, stupa pusat padat dan tidak berhias, mewakili kekosongan tertinggi (sunyata) dan pencapaian Nirvana. Apakah awalnya berisi relik atau sengaja dibiarkan kosong masih diperdebatkan di antara para sarjana.

Area Kuil

Borobudur terletak di lembah yang tinggi di Dataran Kedu di Jawa Tengah, diposisikan secara strategis di antara gunung berapi kembar Sundoro-Sumbing dan Merbabu-Merapi, dengan sungai Progo dan Elo yang mengalir di dekatnya. Taman arkeologi di sekitarnya meliputi taman, halaman rumput yang terawat, dan jalan setapak yang dipenuhi pepohonan yang memandu pengunjung dari plaza masuk ke dasar monumen. Jaringan jalan setapak beraspal terhubung ke candi Pawon dan Mendut di dekatnya, yang disejajarkan di sepanjang sumbu timur-barat lurus — pengaturan yang disengaja yang diyakini mewakili tahapan ziarah Buddha. Taman ini mencakup fasilitas pengunjung seperti fasilitas tiket, area istirahat, dan kios pedagang di dekat pintu masuk.

Fasilitas Tambahan

Kantor Konservasi Borobudur, yang dioperasikan oleh Pusat Pelestarian Cagar Budaya pemerintah Indonesia, memelihara fasilitas di lokasi yang didedikasikan untuk konservasi dan studi monumen yang berkelanjutan. Museum Arkeologi Karmawibhangga di dekatnya menampilkan artefak yang ditemukan dari situs tersebut, replika relief Kamadhatu tersembunyi, dan dokumentasi proyek restorasi UNESCO tahun 1970-an–1980-an. Museum Samudra Raksa, yang bertempat di dekat kompleks candi, menampilkan rekonstruksi kapal layar kuno Indonesia, yang menghubungkan Borobudur dengan jaringan perdagangan maritim era dinasti Sailendra. Bersama-sama, fasilitas ini berfungsi sebagai pusat pendidikan dan budaya bagi pengunjung, sarjana, dan spesialis konservasi.

Makna Keagamaan

Candi Borobudur memiliki makna spiritual yang mendalam dalam tradisi Buddha sebagai situs suci pemujaan, meditasi, dan ziarah. Candi-candi Buddha berfungsi sebagai perwujudan fisik Dharma — ajaran Buddha — dan menyediakan ruang di mana para praktisi dapat mengembangkan kebijaksanaan, kasih sayang, dan kesadaran dalam jalan menuju pencerahan. Arsitektur suci itu sendiri dirancang untuk membimbing pengunjung melalui tahapan kebangkitan spiritual, dengan setiap tingkatan, relief, dan patung membawa makna simbolis yang mendalam.

Candi ini berfungsi sebagai pusat kehidupan praktik Buddha, tempat para umat berkumpul untuk menghormati ajaran Buddha, melakukan ritual pengabdian, dan mengejar pembebasan spiritual dari siklus penderitaan (samsara). Ia berfungsi baik sebagai tujuan ziarah yang menarik orang-orang percaya dari seluruh dunia maupun sebagai gudang seni, filsafat, dan warisan budaya Buddha yang telah mentransmisikan Dharma selama berabad-abad.

Upacara Suci

Meditasi

Para praktisi terlibat dalam berbagai bentuk meditasi di candi, termasuk meditasi kesadaran (vipassana) dan meditasi konsentrasi (samatha). Lingkungan candi yang tenang dan arsitektur suci menciptakan suasana yang ideal untuk praktik kontemplatif yang bertujuan untuk mengembangkan kedamaian batin dan wawasan tentang sifat realitas.

Nyanyian dan Pembacaan

Para umat melafalkan sutra dan mantra sebagai tindakan pengabdian dan pengembangan spiritual. Doa-doa yang dilantunkan ini, sering dilakukan dalam bahasa Pali atau Sansekerta, diyakini memurnikan pikiran, menghasilkan pahala, dan menciptakan suasana spiritual yang beresonansi yang bermanfaat bagi semua makhluk hidup.

Persembahan dan Penghormatan

Para penyembah mempersembahkan persembahan bunga, dupa, lilin, dan makanan di depan patung-patung Buddha dan relik suci. Persembahan ini melambangkan ketidakkekalan hal-hal materi dan mengungkapkan rasa syukur atas ajaran Buddha sambil menumbuhkan kemurahan hati dan ketidaklekatan.

Mengelilingi

Para umat berjalan searah jarum jam di sekitar candi atau struktur sucinya sebagai tindakan penghormatan dan meditasi. Praktik ini, yang dikenal sebagai pradakshina, melambangkan perjalanan spiritual menuju pencerahan dan menghasilkan pahala bagi praktisi dan semua makhluk hidup.

Jalan Menuju Pencerahan

Arsitektur candi mewujudkan perjalanan kosmologis Buddha dari alam keinginan melalui alam bentuk ke alam tanpa bentuk — tiga bidang keberadaan yang dijelaskan dalam kitab suci Buddha. Para peziarah yang naik melalui tingkatan candi secara simbolis menelusuri kembali perjalanan Buddha sendiri menuju pencerahan tertinggi, bergerak dari keterikatan duniawi menuju pembebasan terakhir dari nirwana.

Pahala dan Pengabdian

Mengunjungi candi dan melakukan tindakan pengabdian — menawarkan doa, memberikan sumbangan, dan mengelilingi struktur suci — dianggap sebagai cara yang ampuh untuk menghasilkan pahala spiritual (punya). Dalam kepercayaan Buddha, pahala yang terkumpul memengaruhi kelahiran kembali seseorang di masa depan dan berkontribusi pada kemajuan di jalan menuju pencerahan. Dengan demikian, candi tidak hanya berfungsi sebagai monumen bersejarah tetapi sebagai instrumen spiritual hidup yang melaluinya para umat secara aktif membentuk takdir spiritual mereka.

Sumber dan Penelitian

Setiap fakta di Temples.org didukung oleh Sumber dan Penelitian yang terverifikasi. Setiap informasi diklasifikasikan berdasarkan tingkat sumber dan kepercayaan.

Tier A
Resmi Sumber utama dari lembaga resmi
Tier B
Akademis Sumber peer-review atau ensiklopedis
Tier C
Sekunder Artikel berita, situs wisata, atau referensi umum
Tier D
Komersial Operator tur, agen pemesanan, atau konten promosi
Lihat Semua Sumber (5)
Bidang Sumber Tingkat Diambil
Basic Facts and History Britannica (opens in a new tab) B 2024-01-30
UNESCO World Heritage Designation UNESCO (opens in a new tab) B 2024-01-30
Borobudur History and Architecture IndoAddict (opens in a new tab) C 2024-01-30
Borobudur Visit Information Yogyakarta Tour (opens in a new tab) C 2024-01-30
Borobudur Temple Visit Information Coordinotes (opens in a new tab) C 2024-01-30